Selasa, 27 November 2012

prosesi pernikah adat dayak bakumpai di desa muara tuhup kabupaten murung raya

Description: ump1MAKALAH
Prosesi Pernikahan Adat Dayak Bakumpai Desa Muara Tuhup Kelurahan Muara Tuhup Kabupaten Murung Raya
Disusun dalam rangka untuk memenuhi salah satu tugas
Mata kuliah   : Hukum Adat
Dosen pengampu:


 







DI SUSUN OLEH:
 
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGARAYA
FAKULTAS AGAMA ISLAM
PRODI SYARIAH
PALANGKA RAYA
2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN
Kata Pengantar
          Alhamdulillah, puji syukur kami haturkan kepada  Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada kami sehingga penulisan makalah yang berjudul “Prosesi Pernikahan Adat Dayak Bakumpai Desa Muara Tuhup Kelurahan Muara Tuhup Kabupaten Murung Raya” ini dapat terselesaikan.
          Selanjutnya,ucapan terima kasih dan penghargaan kami berikan kepada semua pihak atas bimbingannya dalam mengarahkan kami sehingga kami bisa memahami lebih jauh mengenai Hukum Adat.
          Kami menyadari berbagai kelemahan, kekurangan dan keterbatasan yang ada, sehingga tetap terbuka kemungkinan terjadi kekeliruan dan kekurangan dalam penulisan makalah kami. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari para pembaca terutama dari Dosen Mata Kuliah Hukum Adat, yang tentunya lebih menguasai ilmu-ilmu di bidangnya, dalam rangka penyempurnaan makalah kami.
Wassalam


Penyusun
 
          Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami sebagai penulis memohon ma’af atas segala kekurangan dan terima kasih atas perhatiannya.   
                                                                                                         



BAB II
PEMBAHASAN
Kebudayaan adalah totalitas latar belakang sistem nilai, lembaga dan perilaku hidup serta perwujudannya yang khas pada suatu masyarakat. Itu merupakan seluruh gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan sekaligus menjadi identitas masyarakat yang bersangkutan sehingga dalam kenyataannya tidak ada dua masyarakat yang kebudayaannya seluruhnya sama. Melihat demikian beragamnya kebudayaan, seperti beragamnya lingkungan, maka dapat dikatakan bahwa kebudayaan itu merupakan suatu respon terhadap lingkungan sekitar. Baik lingkungan manusia maupun lingkungan alam. Respon itu tidak akan sama dari suatu masyarakat ke masyarakat lain, karena manusia mempunyai kemampuan kreatif.
Begitu juga dengan masyarakat  Dayak Bakumpai, banyak sekali budaya serta adat yang sampai sekarang oleh sebagian orang masih dipertahankan dan dilakukan. Dengan tujuan untuk mempertahankan adat, juga sebagian orang ada yang berpendapat apabila tidak dilakukan takut terjadi hal-hal yang mungkin tidak diinginkan, dan berharap akan ada berkah apabila melaksanakannya. Upacara adat ini erat kaitannya dengan suatu doa atau amalan, mantra dan isim yang konon berguna atau bermanfaat untuk mewujudkan tujuan seseorang yang mengamalkannya. Demikian juga halnya dengan upacara adat perkawinan.
Perkawinan adat dayak bakumpai dipengaruhi oleh unsur dalam agama Islam, dan merupakan silang budaya antara kebudayaan adat Bakumpai dan adat Dayak. Dalam perkawinan Adat dayak bakumpai nampak jelas begitu besar penghormatan terhadap posisi wanita. Hal itu merupakan penerapan dari ajaran Islam yang mengemukakan ungkapan “surga itu dibawah telapak kaki ibu” dan kalimat “wanita itu adalah tiang negara”. Acara demi acara yang dilaksanakan semuanya berpusat di tempat atau di rumah pihak calon mempelai wanita, pihak dari keluarga laki-laki yang datang menghormati kepada keluarga mempelai wanita.
Adapun untuk Urutan proses pernikahan suku Dayak Bakumpai/Bakumpai pada umumnya  terjadi dalam beberapa tahapan di kalangan keluarga calon pengantin adalah sebagai berikut:
1.  Basuluh/Meminang
Seorang laki-laki yang akan dikawinkan biasanya tidak langsung dikawinkan, tetapi dicarikan calon gadis yang sesuai dengan sang anak maupun pihak keluarga. Hal ini dilakukan tentu sudah ada pertimbangan-pertimbangan, atau yang sering dikatakan orang dinilai “bibit-bebet-bobot”nya terlebih dahulu. Setelah ditemukan calon yang tepat segera dicari tahu apakah gadis tersebut sudah ada yang menyunting atau belum.
2.  Baensekan atau Melamar.
Setelah diyakini bahwa tidak ada yang meminang gadis yang telah dipilih maka dikirimlah utusan dari pihak lelaki untuk melamar, utusan ini harus pandai bersilat lidah sehingga lamaran yang diajukan dapat diterima oleh pihak si gadis. Jika lamaran tersebut diterima maka kedua pihak kemudian berembuk tentang hari pertemuan selanjutnya yaitu Baatur Jujuran.
3.  Baatur Jujuran atau membicarakan masalah Mahar/Maskawin
Kegiatan selanjutnya setelah melamar adalah membicarakan tentang masalah kawin. Pihak lelaki kembali mengirimkan utusan, tugas utusan ini adalah berusaha agar masalah kawin yang diminta keluarga si gadis tidak melebihi kesanggupan pihak lelaki. Untuk dapat menghadapi utusan dari pihak keluarga lelaki, terutama dalam hal bersilat lidah, maka pihak keluarga sang gadis itu pun meminta kepada keluarga atau tetangga dan kenalan lainnya, yang juga memang ahli dalam bertutur kata dan bersilat lidah. Jika sudah tercapai kesepakatan tentang masalah kawin tersebut. Maka kemudian ditentukan pula pertemuan selanjutnya yaitu Maanter Jujuran.
4.  Maanter Jujuran atau membawa Mahar/Maskawin
Merupakan kegiatan mengantar masalah kawin kepada pihak si gadis yang maksudnya sebagai tanda pengikat. Juga sebagai pertanda bahwa perkawinan akan dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu, baik dari keluarga maupun tetangga. Apabila acara Maanter Jujuran ini telah selesai maka kemudian dibicarakan lagi tentang hari pernikahan dan perkawinan.
5.  Nikah (ikatan resmi menurut agama)
6.  kakawinan atau Pelaksanaan Upacara Perkawinan .
Sebelum hari pernikahan atau perkawinan, mempelai wanita mengadakan persiapan, antara lain:
a. Bapingit dan Bakasai.
Bagi calon mempelai wanita yang akan memasuki ambang pernikahan dan perkawinan, dia tidak bisa lagi bebas seperti biasanya, hal ini dimaksudkan untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan (Bapingit). Dalam keadaan Bapingit ini biasanya digunakan untuk merawat diri yang disebut dengan Bakasai dengan tujuan untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka bercahaya atau berseri waktu disandingkan di pelaminan.
b. Batimuh.
Hal yang biasanya sangat mengganggu pada hari pernikahan adalah banyaknya keringat yang keluar. Hal ini tentunya sangat mengganggu khususnya pengantin wanita, keringat akan merusak bedak dan dapat membasahi pakaian pengantin. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka ditempuh cara yang disebut Batimuh. Setelah Batimuh badan calon pengantin menjadi harum karena mendapat pengaruh dari uap jerangan Batimuh tadi.

c. Bapapai.
Ritual Bapapai, adalah sebuah acara mandi kembang calon pengantin yang dilaksanakan pada malam hari, biasanya setelah akad nikah sekitar pukul  20.00 hingga pukul 22.00 Wib. Sudah suatu kebiasaannya warga suku yang banyak tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, pedalaman Kalteng melakukan acara akad nikah pada malam hari. Proses mandi kembang cukup sederhana dan unik, yaitu sebelum mandi kembang, kedua  calon pengantin harus berputar mengelilingi  tempat mandi yang dipagari benang hitam, diiringi oleh tujuh orang wanita yang berperan sebagai dayang.
Kemudian setelah berputar sebanyak tujuh kali calon  pengantin duduk di tempat yang telah disediakan untuk dimandikan oleh tujuh orang dayang secara bergantian. Untuk kemudian kedua mempelai didandani layaknya para dayang yang melayani raja dan ratu.
Adat budaya Bapapai suku Bakumpai ini diartikan mempelai membersihkan dan membuang masa lalu atau masa remaja, untuk kemudian bersiap dengan jiwa raga yang bersih menyongsong hari depan yang lebih bersih seperti layaknya seorang yang baru saja dimandikan.
Dikarenakan acara Bapapai ini dilakukan harus di lapangan terbuka maka acara ini menjadi tontonan gratis bagi masyarakat setempat dan biasanya cukup ramai dikunjungi warga, karena acara ini hanya terselenggaran saat perayaan perkawinan saja.
d. Perkawinan (Pelaksanaan Perkawinan)
Upacara ini merupakan penobatan calon pengantin untuk memasuki gerbang perkawinan. Pemilihan hari dan tanggal perkawinan disesuaikan dengan bulan Arab atau bulan Hijriah yang baik. Biasanya pelaksanaan upacara perkawinan tidak melewati bulan purnama.
Ditambah berbagai proses lainnya yang semuanya dilakukan di kediaman mempelai wanita. Karena perkawinan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup, maka keluarga kedua mempelai berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan kesan dan keistimewaan serta fasilitas kepada kedua mempelai, mereka dilayani bagai seorang raja dan ratu sehingga sering diberi julukan Raja ije andau (raja satu hari).
Proses-proses yang dilakukan sebelum bersanding (batatai-red: bakumpai) pengantin, yaitu:
1.  Balik Hejan atau Menurunakan Pangantin Laki-Laki, Upacara akan dimulai saat pengantin laki-laki mulai turun dari rumahnya menuju pelaminan di rumah mempelai wanita. Proses ini memang terlihat mudah, tetapi sering pada acara inilah terjadi hal-hal yang berakibat fatal bahkan mengakibatkan batalnya seluruh acara perkawinan. Di masa lalu, tidak jarang laki-laki saingan yang gagal memperoleh hati wanita yang akan segera menikah melakukan segala cara untuk menggagalkan pernikahan yang akan segera berlangsung. Mereka berusaha menggagalkan dengan cara halus (gaib) terutama saat ijab kabul tiba. Mempelai laki-laki akan muntah-muntah dan sakit, ada juga yang tidak dapat menggerakkan kakinya untuk melangkah padahal rumah wanitanya sudah di depan mata. Untuk mengantipasi hal ini biasanya para tetuha keluarga memberikan pahata dengan doa-doa khusus. Selain itu saat kaki calon pengantin laki-laki melangkah pertama kali akan didendangkan shalawat nabi dan ditaburi behas bahenda (beras kuning).
2.  Maarak. Acara ini di laksanakan beramai-ramai, yang di arak adalah Pengantin Laki-laki, saat tidak ada lagi gangguan terjadi rombongan pengantar akan bergerak menuju rumah mempelai wanita (dahulu jarak antar rumah calon relatif dekat sehingga warga berjalan kaki beramai-ramai). Kira-kira beberapa puluh meter di depan rumah mempelai, saat inilah berbagai macam kesenian akan ditampilkan. Diantaranya, Sinoman Hadrah, Kuntau, Lawang Sakaping. Pengantin Pria berada pada barisan paling depan dengan di payungi oleh salah satu dari muhrimnya. Pada saat berjalan menuju rumah pengantin wanita, para rombongan biasanya berhenti beberapa kali yang selanjutnya pengantin pria berbalik arah menghadap ke barisan belakang, kemudian salah satu dari rombongan barisan belakang yang mengiringi pengantin pria mendendangkan syair-syair, pantun-pantun jenaka, untuk memeriahkan penonton dan para warga yang dilewati pengantin pria. Hal ini dilakukan beberapa kali dalam setiap jarak jalan yang di tempuh oleh pengantin pria hingga sampai ketempat pengantin wanita yang sudah siap menunggu datangnya pengantin pria beserta rombogan yang mengiringinya
3.  Batatai Pengantin, proses terakhir dalam pesta. Kedua mempelai bertemu dan dipertontonkan di atas mahligai pelaminan disaksikan seluruh undangan yang hadir. Adapun para rombongan yang ikut mengantar pengantin pria di suguhkan dengan hidangan oleh pihak mempelai wanita sedangkan Para penonton di hibur dengan berbagai kesenian olah vocal seperti: kesenian Krungut, bajapin. Tapi pada saat ini, hiburan itu mengalami kemerosotan. Tidak lagi seperti dahulu, digantikan dengan orkes dangdut yang di laksanakan pada malam hari. Hal ini disebabkan oleh faktor SDMnya yang sulit untuk didapatkan bisa dalam hal tersebut sehingga dikalahkan oleh perkembangan jaman(orkes dangdut)
Begitulah proses upacara perkawinan yang dilakukan oleh suku Bakumpai pada masa lalu. Namun pada era globalsasi saat ini tata cara perkawinan tersebut sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat khususnya masyarakat Bakumpai. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman, yang otomatis dianggap tidak sesuai lagi dengan budaya-budaya leluhur seperti contohnya upacara perkawinan tersebut. Dan juga dianggap terlalu bertele-tele. Hal ini tentu sangat menyedihkan bagi kita, budaya leluhur yang diajarkan secara turun temurun malah dengan mudahnya kita tinggalkan tanpa ada upaya untuk melestarikannya. Maksudnya ada bagian tertentu yang tidak dilaksanakan lagi karena dianggap sudah tidak sesuai.
 Pada masa sekarang dalam hal mencari calon isteri tidak lagi pengaruh orang tua berperan penting, sekarang anak muda dalam hal mencari jodoh ditempuh dengan cara pacaran seperti yang telah dikemukakan di bagian awal tadi.
 Untuk itu peran pemerintah dan masyarakat sangat diharapkan untuk melestarikan kebudayaan yang kita miliki ini. Negara kita terkenal karena kebudayaannya yang unik untuk itu kita sebagai generasi penerus haruslah melestarikan kebudayaan yang kita miliki.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
          Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa :
1.     Suku dayak bakumpai/ Bakumpai merupakan sub etnis dayak Kalimantan Tengah
2.     Dalam proses pernikahannya banyak di pengaruhi oleh ajaran agama islam.
3.     Adapun urutan proses-proses yang hendaknya di lalui oleh calon pasangan pengantin:
1.     Basuluh
2.     Baensekan/ mainsek
3.     Baatur jujuran
4.     Maanter jujuran
5.     Nikah
6.     Kakawinan
a.     Bapingit dan bakasai
b.     Batimuh
c.      Bapapai
d.     Perkawinan (pelaksanaan pernikahan / Walimatul ‘Ursy)
4.     Adapun acara yang wajib dilalui pada saat mempelai pria mendatangi rumah wanita pada saat pernikahan antara lain:
a.     Balik hejan
b.     Maarak
c.      Batatai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar